Breaking News

Dialog Yaman Belum Dimulai, Debat Publik Sudah Viral

Diplomat Khalid Al-Yamani, yang dekat dengan Aidarus al-Zubaidi, baru-baru ini mengumumkan melalui akun resmi bahwa dialog selatan yang difasilitasi Riyadh adalah jalan keluar dari kebuntuan, dan memberi Selatan hak menentukan nasib sendiri. Pernyataan ini menunjukkan adanya dorongan kuat dari lingkaran STC untuk ikut dialog, meski dengan syarat pengakuan otonomi selatan.

Namun, Farid Al-Awlaqi, anggota presidensi Dewan Tertinggi Gerakan Selatan, menegaskan satu hal tegas: STC harus menyerahkan senjata dan institusi negara kepada pemerintah yang sah sebelum ikut dialog Riyadh. Pernyataan singkat ini menegaskan bahwa komitmen praktis lebih penting daripada klaim simbolik.

Analisis awal menunjukkan bahwa Al-Yamani berbicara dari perspektif STC, yang menekankan hak politik dan otonomi, sedangkan Al-Awlaqi menekankan kepatuhan terhadap prinsip negara dan legitimasi pemerintah. Dua pendekatan ini mencerminkan ketegangan mendasar antara simbol dan aksi nyata.

Syarat penyerahan senjata Al-Awlaqi bukan sekadar formalitas. Ia menegaskan bahwa tanpa kontrol pemerintah atas pasukan dan institusi, dialog akan kehilangan kredibilitas dan risiko konflik akan tetap tinggi.

Pernyataan Al-Awlaqi juga menyoroti dualisme kekuasaan di selatan Yaman. STC tetap memegang senjata dan sebagian lembaga, menciptakan situasi di mana otoritas pemerintah sah tidak sepenuhnya efektif di lapangan.

Lebih jauh, Al-Awlaqi secara implisit menilai keseriusan STC dalam dialog Riyadh. Jika STC tidak menyerahkan senjata, partisipasi mereka hanya formalitas, bukan langkah nyata menuju stabilitas.

Syarat ini juga menekankan perlindungan warga sipil. Tanpa penyerahan senjata, potensi konflik internal atau kekerasan sporadis tetap tinggi, mengancam keamanan masyarakat lokal.

Dari perspektif diplomatik, pesan Al-Awlaqi memberi tekanan pada STC agar menyesuaikan langkah praktis mereka. Riyadh sebagai fasilitator kemungkinan akan menuntut bukti keseriusan sebelum dialog berjalan.

Dengan menekankan institusi negara, pernyataan Al-Awlaqi menunjukkan bahwa masalah tidak hanya soal militer. Kantor pemerintahan, jaringan administrasi, dan logistik yang masih di bawah kendali STC juga harus diserahkan agar dialog efektif.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa posisi Dewan Tertinggi dan Al-Awlaqi mendorong urutan logis: penyerahan senjata dulu, dialog kemudian, berbeda dengan tuntutan simbolik STC yang menekankan pengakuan selatan sebelum partisipasi.

Implikasi politik internal juga besar. Loyalitas aparat sipil dan militer bisa bergeser jika STC menunda penyerahan senjata sementara PLC dan Dewan Tertinggi menuntut kepatuhan.

Secara strategis, langkah Al-Awlaqi adalah menghubungkan legitimasi politik dengan kontrol keamanan nyata, agar dialog tidak menjadi formalitas yang gagal.

Pernyataan ini juga memberi tekanan moral. STC yang menahan senjata di saat pemerintah sah menunggu menunjukkan mereka tidak kooperatif di mata publik dan dunia internasional.

Jika STC tetap menolak syarat ini, proses dialog berpotensi stagnan dan risiko konflik di selatan tetap tinggi.

Pernyataan singkat Al-Awlaqi menjadi tolak ukur keseriusan STC, mengukur apakah mereka siap menghormati struktur negara dan mengambil langkah nyata untuk stabilitas.

Dari sisi diplomasi internasional, pesan ini memperjelas bahwa Riyadh menuntut bukti nyata sebelum mengizinkan negosiasi penuh, bukan sekadar klaim simbolik atau hak politik.

Secara praktis, penyerahan senjata dan institusi akan membuka jalan bagi PLC untuk memasuki provinsi selatan dengan legitimasi penuh, memanfaatkan dukungan gubernur dan aparat lokal.

Namun, analisis menunjukkan bahwa STC kemungkinan tetap mempertahankan strategi simbolik mereka, menekankan pengakuan hak otonomi selatan sebagai prasyarat sebelum langkah praktis.

Akhirnya, wawancara ini menegaskan perbedaan paradigma antara STC dan Dewan Tertinggi Gerakan Selatan. Satu pihak menekankan hak simbolik, pihak lain menekankan langkah nyata dan kontrol institusi.

Kesimpulannya, pernyataan singkat Al-Awlaqi menunjukkan bahwa keikutsertaan STC dalam dialog Riyadh hanya efektif jika mereka menyerahkan senjata dan menghormati institusi negara. Tanpa itu, dialog berisiko menjadi formalitas tanpa hasil.

Terakhir, pesan Al-Awlaqi menegaskan bahwa STC belum sepenuhnya serius jika mereka menahan senjata. Dialog Riyadh akan bergantung pada komitmen nyata mereka terhadap proses politik yang sah dan stabilitas selatan Yaman.

Tidak ada komentar