Perbandingan Ekonomi Suriah dkk dengan Sumatera Utara
Perekonomian Suriah pascaperang kembali menjadi sorotan setelah sejumlah indikator menunjukkan bahwa nilai produk domestik bruto negara itu kini berada pada kisaran yang setara dengan wilayah subnasional di Asia Tenggara. Dengan estimasi GDP nominal sekitar 20–25 miliar dolar AS per tahun, posisi ekonomi Suriah hari ini mencerminkan skala yang lebih dekat dengan sebuah provinsi atau negara bagian, bukan negara berpenduduk puluhan juta jiwa.
Angka tersebut menjadi kontras tajam bila dibandingkan dengan kondisi Suriah sebelum perang. Pada 2010, GDP Suriah masih berada di kisaran 60 miliar dolar AS, didukung sektor minyak, pertanian, industri ringan, serta perdagangan lintas kawasan. Perang berkepanjangan dan sanksi internasional memangkas hampir seluruh fondasi ekonomi tersebut.
Dalam perspektif regional Asia Tenggara, GDP Suriah saat ini dapat dibandingkan dengan negara bagian Penang di Malaysia. Penang, dengan populasi sekitar 1,8 juta jiwa, mencatat GDP tahunan sekitar 30–35 miliar dolar AS, didorong industri manufaktur berteknologi tinggi, elektronik, logistik, serta pelabuhan internasional.
Perbandingan ini menunjukkan ironi ekonomi yang tajam. Sebuah negara berdaulat seperti Suriah, dengan populasi lebih dari 20 juta jiwa, menghasilkan output ekonomi yang tidak jauh berbeda dari sebuah negara bagian kecil Malaysia. Hal ini menegaskan betapa dalamnya kerusakan ekonomi akibat konflik.
Situasi serupa terlihat ketika Suriah dibandingkan dengan Kota Medan di Indonesia. Medan sebagai pusat ekonomi Sumatera Utara diperkirakan memiliki GDP sekitar 19–20 miliar dolar AS. Aktivitas perdagangan, jasa, industri makanan, dan distribusi regional menjadi motor utama ekonomi kota tersebut.
Artinya, secara nominal, seluruh ekonomi Suriah saat ini setara dengan satu kota metropolitan besar di Indonesia. Padahal Suriah memiliki sumber daya alam, wilayah pertanian luas, serta posisi geostrategis yang jauh lebih besar dibanding Medan.
Bila lingkup diperluas ke Provinsi Sumatera Utara secara keseluruhan, perbandingan menjadi semakin jelas. Sumatera Utara, dengan populasi sekitar 15 juta jiwa, memiliki GDP di kisaran 40–45 miliar dolar AS per tahun. Angka ini hampir dua kali lipat dari GDP Suriah saat ini.
Perbedaan ini mencerminkan kontras stabilitas dan kesinambungan pembangunan. Sumatera Utara berkembang dalam kerangka negara yang relatif stabil, dengan arus investasi, infrastruktur berjalan, dan sistem keuangan yang terintegrasi secara nasional.
Sementara itu, Suriah selama lebih dari satu dekade mengalami fragmentasi wilayah, hancurnya infrastruktur, terputusnya rantai pasok, serta keluarnya modal manusia dalam jumlah besar. Jutaan warga Suriah menjadi pengungsi atau diaspora, menghilangkan tenaga produktif dari dalam negeri.
Kesamaan nominal GDP Suriah dengan Penang dan Sumatera Utara bukan karena wilayah-wilayah Asia Tenggara tersebut tertinggal, melainkan karena ekonomi Suriah mengalami penyusutan ekstrem. Ini adalah hasil akumulasi perang, sanksi ekonomi, keruntuhan mata uang, dan minimnya investasi asing.
Selain itu, struktur ekonomi Suriah saat ini sangat timpang. Sebagian besar aktivitas ekonomi bersifat informal, tidak tercatat secara resmi, dan sangat bergantung pada konsumsi dasar serta bantuan kemanusiaan. Hal ini membatasi kontribusi sektor produktif bernilai tambah tinggi.
Penang dan Medan, sebaliknya, memiliki struktur ekonomi yang lebih modern dan terdiversifikasi. Penang unggul pada ekspor manufaktur berteknologi menengah dan tinggi, sementara Medan berperan sebagai simpul perdagangan regional yang terhubung dengan pasar nasional dan internasional.
Faktor kurs juga memainkan peran penting. Nilai tukar pound Suriah yang terdepresiasi tajam membuat GDP nominal dalam dolar terlihat kecil, meskipun aktivitas ekonomi domestik tetap berlangsung. Namun depresiasi ini sekaligus mencerminkan lemahnya daya beli dan kepercayaan pasar.
Dalam jangka pendek, masuknya kembali wilayah Raqqa, Hasakah, dan Deir Ezzour ke dalam administrasi pemerintah pusat Suriah berpotensi menambah basis ekonomi nasional. Wilayah-wilayah tersebut kaya sumber daya pertanian, minyak, dan jalur perdagangan.
Namun tambahan wilayah tidak otomatis mengerek GDP secara cepat. Pemerintah Suriah masih dihadapkan pada kebutuhan rekonstruksi besar-besaran, penyerapan tenaga kerja, serta integrasi administrasi dan fiskal yang rumit.
Tekanan terhadap anggaran negara diperkirakan meningkat pada tahun-tahun awal integrasi wilayah. Negara harus membiayai layanan publik, keamanan, dan pemulihan infrastruktur, sementara kapasitas fiskal masih sangat terbatas.
Dalam jangka menengah, potensi pertumbuhan memang ada. Jika stabilitas terjaga dan sanksi mulai dilonggarkan, ekonomi Suriah dapat tumbuh lebih cepat dari wilayah mapan seperti Penang atau Sumatera Utara. Namun titik awalnya tetap sangat rendah.
Perbandingan dengan Penang dan Sumatera Utara pada akhirnya menjadi cermin keras bagi Suriah. Ia menunjukkan bahwa ukuran ekonomi bukan sekadar soal luas wilayah atau jumlah penduduk, melainkan stabilitas politik, tata kelola, dan kesinambungan pembangunan.
Selama faktor-faktor struktural tersebut belum pulih sepenuhnya, ekonomi Suriah kemungkinan akan terus berada pada skala “ekonomi daerah”, bukan ekonomi negara penuh. Itulah sebabnya GDP Suriah hari ini tampak mirip dengan Penang dan Sumatera Utara, meski konteks dan kapasitas dasarnya sangat berbeda.
Perekonomian Suriah saat ini berada pada kisaran GDP nominal sekitar 20–25 miliar dolar AS per tahun, jauh menurun dibanding sebelum perang. Angka ini mencerminkan dampak kumulatif konflik panjang, kerusakan infrastruktur, sanksi internasional, dan terputusnya aktivitas perdagangan regional yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi negara tersebut.
Jika dibandingkan dengan Somalia, posisi Suriah masih berada sedikit di atas. GDP Somalia diperkirakan berada di kisaran 10–15 miliar dolar AS, dengan ekonomi yang sangat bergantung pada remitansi diaspora, sektor informal, peternakan, dan bantuan internasional. Meski konflik bersenjata di Somalia belum sepenuhnya berakhir, struktur ekonominya sejak lama memang lebih kecil dan terbatas dibanding Suriah.
Sementara itu, Yaman berada pada level yang relatif sebanding dengan Suriah. GDP Yaman saat ini diperkirakan sekitar 20–25 miliar dolar AS, turun drastis dari sebelum perang yang pernah mencapai lebih dari 40 miliar dolar AS. Konflik berkepanjangan, fragmentasi wilayah, serta krisis kemanusiaan akut membuat ekonomi Yaman menyusut hingga mendekati titik yang sama dengan Suriah.
Perbedaan utama di antara ketiganya terletak pada fondasi ekonomi sebelum konflik. Suriah dan Yaman sebelumnya memiliki negara yang relatif terintegrasi, sektor energi dan pertanian yang jelas, serta jaringan perdagangan regional. Somalia, sebaliknya, telah lama beroperasi dengan ekonomi terfragmentasi dan negara yang lemah, sehingga basis GDP-nya sejak awal memang lebih kecil.
Dengan demikian, kesamaan GDP Suriah dan Yaman saat ini lebih mencerminkan kemerosotan ekonomi akibat perang, bukan kapasitas riil jangka panjang. Jika stabilitas politik dan pemulihan ekonomi tercapai, Suriah dan Yaman secara teori memiliki potensi untuk kembali melampaui Somalia, namun dalam jangka pendek ketiganya masih berada dalam kelompok negara dengan skala ekonomi yang sangat terbatas dan tekanan sosial yang tinggi.







Tidak ada komentar