Strategi Ahmed al-Sharaa Menghindari Jebakan Geopolitik Regional
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak pengamat menanyakan mengapa Suriah tidak bertahan seperti Afghanistan dalam menghadapi perang berkepanjangan. Namun, pertanyaan yang sebenarnya bukanlah tentang meniru model Afghanistan, melainkan mengapa Suriah memilih strategi yang justru bisa menghancurkannya.
Presiden Ahmed al-Sharaa memahami sesuatu yang sering luput dari perhatian politikus, revolusioner, dan analis: Suriah bukan Afghanistan. Negara ini tidak bisa bertahan melalui perang tanpa akhir. Suriah hanya bisa selamat dengan membuat dirinya menjadi indispensable atau tak tergantikan.
Geografi menjadi faktor penentu strategi. Afghanistan memiliki pegunungan yang memungkinkan perlawanan gerilya berlangsung tanpa henti, sementara Suriah terdiri dari dataran terbuka dengan perbatasan yang mudah diakses dan langit yang terbuka. Dominasi udara Israel dan posisi tinggi di Golan membuat Suriah sangat rentan terhadap serangan langsung.
Memilih model perang ala Afghanistan di Suriah bukanlah keberanian, melainkan bunuh diri. Al-Sharaa memahami dengan jelas bahwa perang tanpa akhir akan menghancurkan Suriah dari dalam. Keputusan untuk tidak menempuh jalan itu adalah langkah cerdas dalam konteks geopolitik.
Israel berbeda dengan musuh sementara seperti Inggris atau Uni Soviet di Afghanistan. Israel adalah tetangga permanen yang ekspansionis dan menikmati kekacauan Suriah. Konflik yang berkepanjangan menguntungkan Israel, sementara stabilitas Suriah justru menjadi ancaman bagi kepentingannya.
Perang tanpa akhir di Suriah akan berujung pada kehancuran total. Perlawanan gerilya sulit dipertahankan, infrastruktur hancur, dan kerugian sipil bisa sangat besar. Contoh Gaza menunjukkan bagaimana konflik berkepanjangan menghancurkan wilayah sekaligus melemahkan posisi strategis.
Al-Sharaa memilih strategi berbeda: bukan kelemahan, tetapi kecerdasan. Alih-alih menjadikan Suriah medan perang, negara ini diposisikan sebagai koridor ekonomi dan logistik yang vital, menghubungkan Turki, Suriah, dan Teluk Arab.
Dalam setahun terakhir, investasi dari Teluk dan Turki mencapai 28 miliar dolar AS. Proyek energi besar dibangun, ekspor Turki ke Suriah meningkat 54 persen, bank Saudi memasuki pasar Suriah, dan berbagai infrastruktur penting seperti bandara, ladang gas, jalur kereta, serta jaringan listrik mulai dipulihkan.
Suriah kini diposisikan bukan sebagai beban, tetapi sebagai pusat regional. Al-Sharaa menekankan bahwa rekonstruksi dilakukan melalui investasi, bukan bantuan, sehingga Suriah menjadi negara yang bernilai strategis bagi ekonomi regional dan global.
Kecerdasan strategi ini terletak pada integrasi ekonomi sebagai alat pertahanan. Suriah tidak mencoba mengalahkan Israel secara militer, melainkan membuat diri mereka terlalu berharga untuk diserang. Setiap serangan akan merugikan investor dan rantai pasok regional, termasuk Turki, Saudi, dan infrastruktur energi Teluk.
Investasi menjadi baju zirah, integrasi menjadi pertahanan, dan saling ketergantungan menjadi pencegah konflik. Model ini meniru kesuksesan Singapura dan sistem pencegahan perang di Eropa setelah berabad-abad konflik.
Sebuah koridor Sunni baru sedang terbentuk, di mana Turki dan Saudi kembali bersinergi, modal Teluk masuk, dan Suriah menjadi pusat rute regional. Arsitektur ini bukan didorong oleh ideologi atau sektarian, tetapi oleh logika strategis yang dingin.
Dengan posisi geografis yang strategis di jantung Timur Tengah, Suriah memiliki kekuatan yang lebih dari pegunungan Afghanistan atau Yaman. Suriah berada di persimpangan benua dan arteri utama perdagangan antara Eropa dan Teluk Arab.
Jika Suriah berhasil menjadi jembatan perdagangan dan energi global, maka menyerang Suriah berarti menyerang ekonomi dunia. Ini menjadi bentuk pencegah konflik paling kuat terhadap Israel dan ancaman regional lainnya.
Al-Sharaa memahami satu kebenaran yang sering diabaikan oleh pemimpin lain: nasib tidak bisa dilawan, tetapi bisa dirancang ulang. Suriah kini bukan lagi negara yang bergantung pada belas kasihan dunia, tetapi negara yang menjadi kebutuhan global.
Langkah ini bukan bentuk menyerah, apalagi kelemahan. Strategi Suriah di bawah al-Sharaa menunjukkan kecerdasan geopolitik tingkat tinggi, yang mengubah risiko menjadi peluang dan perang menjadi prospek perdamaian yang menguntungkan.
Melalui investasi dan integrasi ekonomi, Suriah memposisikan diri agar dunia tidak mampu membiarkan negara itu jatuh. Setiap serangan akan merugikan ekonomi regional dan global, sehingga Suriah menjadi negara yang terlalu berharga untuk diabaikan.
Strategi ini juga menegaskan bahwa stabilitas ekonomi dan politik adalah bentuk pertahanan paling efektif. Suriah kini membangun diri sebagai hub logistik, energi, dan perdagangan, bukan medan perang.
Dalam waktu singkat, al-Sharaa telah mengubah narasi Suriah dari negara yang hancur akibat perang menjadi pusat penting bagi investasi dan pembangunan regional. Ini adalah transformasi strategi yang visioner.
Kesimpulannya, genius strategi Ahmed al-Sharaa terletak pada kemampuan meredefinisi peran Suriah: dari medan perang menjadi negara indispensable. Strategi ini bukan hanya berani, tetapi juga efektif, dan menunjukkan bagaimana kecerdasan bisa menaklukkan tantangan geopolitik yang kompleks.







Tidak ada komentar